Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan

4 Syarat untuk Bisa Jadi Pacar Haruka JKT48 Ini Bikin Melongo!

Kabarnya, salah satu peraturan saat menjadi member JKT48 adalah tidak boleh pacaran.
Seperti remaja pada umumnya, para member JKT48 ini juga ingin merasakan indahnya masa pacaran saat remaja.
Salah satunya Haruka Nakagawa.
Dilansir dari Instagram indozone.id dari Kompas, setelah "lulus" dari group idola JKT48, Haruka rupanya memiliki kesibukan yang tidak terlalu menyita tenaga, namun cukup menguras hati.
Kabarnya, Haruka sedang mencari seorang kekasih.
Selama ini ia merasa terkekang dengan aturan selama menjadi member JKT48 yang tidak diperolehkan memiliki pacar.
"Sudah 10 tahun aku enggak bebas. Soalnya sejak usia 15 tahun udah gabung ke AKB48," kata Haruka.
Tak mau asal punya kekasih, haruka jelas memiliki syarat untuk calon kekasihnya kelak.
"Harus orang kaya! Harus baik, perhatian sama aku, harus bisa tiga bahasa. Kayak Jepang, Inggris, Indonesia," sebutnya.
Memang Haruka mengaku punya banyak keinginan.
Calon pacarnya pun juga harus punya mobil, harus punya rumah, dan harus serius, kalau bisa berlanjut ke pernikahan.
Meski begitu, Haruka tidak punya kriteria seperti apa fisik atau di mana domisili pacarnya.
"Orang apa aja boleh," tambahnya.
Syarat-syarat yang diucapkan oleh Haruka ini membuat netizen heboh.
Postingan pernyataan Haruka di akun indozone.id langsung banjir berbagai komentar dari netizen.
Haruka ini terlalu jujur atau gimana, sih ?
"Pantesan jepang krisis angka kelahiran wkwk," tulis @musyary_g
"Kerenn.. terlalu jujur," tulis @itsme_zorafa.
"Pantes jomblo wkwk," tulis @sapaatasep.
"Pantes jomblo mbak," tulis @danielberga12.
"Pantes jomblo :v," tulis @r_onkin.
"Kayanya dia bakal jomblo lama deh," tulis @riia_dn.
"intinya harus orang kaya.. nggk usah basa basi..:v," tulis @mwb_1412.
SUmber: http://style.tribunnews.com/2017/06/08/3-syarat-untuk-bisa-jadi-pacar-haruka-jkt48-ini-bikin-melongo?page=all

Inilah Sosok Penyumbang Emas Monas, Nasibnya Tragis, Bukannya Dihargai, Malah Sering Masuk Penjara

Sebagian masyarakat tentunya sudah tidak asing dengan Monumen Nasional (Monas).
Monas berdiri tegak di tengah-tengah Lapangan Merdeka, Jakarta Pusat.
Pembangunan Monas mulai dilakukan pada tanggal 17 Agustus 1961.
Lalu pada tanggal 12 Juli 1975 Monas mulai dibuka untuk umum.
Monas memiliki tinggi 132 meter atau sekitar 433 kaki.
Monumen tersebut memang terbilang unik jika dibandingkan dengan monumen atau tugu sejenisnya yang ada di kota lain.
Sebab, di puncak monumen tersebut terdapat bongkahan emas berbentuk kobaran api.
Bongkahan emas tersebut memiliki berat sekitar 38 kilogram.
Emas itu melambangkan semangat perjuangan yang menyala-nyala.
Meski demikian, sampai saat ini tidak banyak orang yang mengetahui tentang sosok yang menyumbangkan emas yang berada di puncak Monas.
Sosok penyumbang emas untuk puncak Monas adalah Teuku Markam.
Teuku Markam lahir pada tahun 1925 di Seuneudon, Alue Capli, Panton Labu, Aceh Utara.
Dari 38 kilogram emas, Teuku Markam menyumbangkan emas seberat 28 kilogram emas.
Teuku Markam merupakan seorang pengusaha kaya.
Dia memiliki perusahaan bernama PT Karkam.
Saat muda, Teuku Markam memasuki dunia militer.
Tepatnya, melalui pendidikan wajib militer di Koeta Radja atau sekarang yang lebih dikenal dengan Banda Aceh.
Dia menamatkan pendidikannya dengan pangkat Letnan Satu.
Teuku Markam kemudian bergabung dengan Tentara Rakyat Indonesia (TRI), serta pernah mengikuti pertempuran di Tembung, Sumatera Utara.
Meski demikian, Teuku Markam pernah merasakan mendekam di Penjara.
Teuku Markam berada di penjara karena persaingan bisnisnya dengan Teuku Hamzah sekitar tahun 1957.
Saat itu, Teuku Hamzah menjadi Panglima Kodam Iskandar Muda.
Namun, pada tahun 1958 Teuku Markam baru keluar dari penjara.
Usai bebas dari penjara, Teuku Markam kembali menggeluti dunia bisnis.
Dia banyak mengembangkan bisnisnya pada sektor pembuatan kapal.
Teuku Markam pun menjadi pengusaha yang sangat sukses saat itu.
Oleh karena itu, dia berkomitmen untuk membantu Presiden Soekarno memberantas buta huruf, dan membebaskan Irian Barat.
Selain membantu dalam kedua hal itu, dia juga berkomitmen membantu Soekarno membangun Monas, dan menyumbangkan emas seberat 28 kilogram.
Nahas, nasib Teuku Markam tak selalu mujur.
Sebab, dia harus kembali mendekam di penjara.
Pada era pemerintahan Orde Baru, Teuku Markam dituding sebagai PKI, dan koruptor.
Sehingga, pada tahun 1966, Teuku Markam pun dijebloskan ke penjara tanpa adanya proses pengadilan.
Baru pada tahun 1974 Teuku Markam dibebaskan oleh pemerintah.
Meski demikian, seluruh aset perusahaan dan kekayaannya telah disita oleh pemerintah Orde Baru.
Teuku Markam tutup usia akibat komplikasi penyakitnya pada tahun 1985.
(Dikutip dari Wikipedia, dan berbagai sumber).
Sumber: http://jatim.tribunnews.com/2017/06/08/inilah-sosok-penyumbang-emas-monas-nasibnya-tragis-bukannya-dihargai-malah-sering-masuk-penjara?page=all

Heboh! Ini Doa saat Misa di Gereja Katolik Yogyakarta Buat Muslim di Bulan Ramadhan

Isu perselisihan antar umat beragama dalam tahun ini sangat santer terdengar.
Berbagai organisasi massa bahkan membuat demo yang sepertinya setiap hari tidak pernah berakhir.
Dari demo dengan tanggal cantik hingga aksi menyalakan lilin di berbagai kota.
Namun semua tindakan seperti itu tidaklah berbuha manis pada akhirnya.
Justru akan semakin membuat jarak dan perpecahan antar umat beragama.
Terlebih dengan peran media yang terus memberitakan isu-isu semacam itu membuat masyarakat terus berpikiran negatif.
Namun media juga bisa berperan serta untuk menyatukan kembali perbedaan yang ada.
Media juga bisa membuat jembatan yang memisahkan jurang antar umat beragama.
Satu cara di antaranya adalah dengan menyebarkan berita yang menginspirasi bagi kedua belah pihak.
Seperti kabar yang sangat layak untuk dibagikan berikut ini.
Akun Facebook bernama Algonz Dimas Bintarta Raharja baru-baru ini mengunggah sebuah foto yang lantas menjadi viral.
Foto yang diunggah pada 27 Mei 2017 itu memperlihatkan sebuah teks doa umat Katolik.
Menurut penjelasan Algonz, itu merupakan teks doa umat pada suatu misa di salah satu gereja katolik di Yogyakarta.
Tidak dijelaskan dimana letak gereja Katolik yang bersangkutan.
Akan tetapi Algonz memberikan keterangan sebagai berikut:
"Selamat berbuka di hari pertama Ramadhan ini para kerabat sesama manusiaku yg menjalani nitilaku puasa Ramadhan 1438 H. Tetap sehat tetap semangat, tetap damai, berdamai dengan lingkungan sekitar dan diri sendiri. Rahayu
foto: teks doa umat pada suatu misa di salah satu gereja katolik di Yogyakarta. Dicatut dari lini masa Line milik seorang teman."

Dalam teks doa itu tertulis:
"Bulan Ramadhan segera tiba. Saudari-saudara kita, umat Islam, menantikannya dengan rindu untuk menjalan ibadah puasa."
"Bapa, limpahilah mereka rahmat kesehatan agar menunaikan ibadahnya dengan baik. Jadikanlah kami saudara yang toleran bagi mereka."
Foto ini lantas menjadi viral karena teks doa saat misa itu sangat menyentuh hati.
Pesan yang baik ini lantas dibagikan oleh banyak netizen.
Tercatat, postingan Algonz ini saj sudah dibagikan lebih dari 280 kali dan terus bertambah.
Beberapa netizen yang membagikan postingan itu memberikan komentarnya.
"Sungguh layak utk di share... #DamaiItuIndah," tulis Tyo Setianto.
"Mendoakan lebih baik daripada menghujat ...," tulis Arie Pakpahan.
"Masya Allah... status paling mutu sepanjang hari ini. Kami berbeda dan saling menghormati," tulis Titin Mufarrahah.
"Terharu campur merinding.. terimakasih ya saudara saudari atas doa nya. Semoga kita semua sehat2 sehingga bisa mengabdi Tuhan, Bangsa, dan negara dengan sebaik2nya.
Terimakasih untuk pelajaran ini...," tulis Aulia Djatnika.
Sebarkan berita baik ini guys!
Sumber:http://pontianak.tribunnews.com/2017/05/30/viral-ini-teks-doa-saat-misa-di-gereja-katolik-yogyakarta-netizen-masya-allah?page=all

Pulang Sekolah, Rumah Bocah TK ini Terkunci, Ternyata Yang Terjadi Sungguh Memilukan

Anak adalah amanah yang dititipkan Tuhan kepada kita di dunia.

Untuk itulah, orangtua mestinya membesarkan anak dengan segenap kekuatan yang dia miliki.

Tapi kisah yang terjadi di Zhejiang, China, ini sungguh getir dan memilukan.

Peristiwa ini terjadi pada 16 Mei 2017.

Seorang bocah berusia 6 tahun bernama Xiao Rong, ditinggalkan orangtuanya dengan cara yang kejam.

Semua bermula ketika Xiao Rong bersekolah di sebuah taman kanak-kanak di sana.

Tiba saatnya pulang, dia seharusnya dijemput ayahnya.

Menunggu satu setengah jam, ayah Xiao Rong tak kunjung datang.

Xiao mulai letih dan menangis.

Melihat Xiao menangis, Looi, guru di TK tersebut, langsung menelepon ayah Xiao.

Tapi nomor telepon ayah Xiao dalam kondisi mati.

Dia lalu mencoba mengirim pesan teks WeChat ke ayah Xiao, tapi tak juga dibalas.

Para guru Xiao baru curiga, ada yang tak beres dengan ayah Xiao.

Mereka pun membuka tas Xiao.

Betapa terkejutnya, tas Xiao sudah berisi sejumlah potong baju Xiao.

Para guru berusaha tak panik, dan mnegantar Xiao ke rumahnya.

Yang mereka temukan tak kalah mengagetkan.

Pagar rumah Xiao dalam kondisi terkunci gembok dari luar.

Menurut para guru, pihak sekolah sudah lama mengenal bila Xiao selama ini hanya tinggal bersama ayahnya.

Ibu Xiao sudah lama minggat dari rumah, karena tak tahan terus dipukuli ayah Xiao.

Para guru kemudian melaporkan kejadian ini ke kepolisian.

Sementara Xiao, sehari-harinya menumpang tidur di rumah seorang guru.

Polisi yang menyelidiki akhirnya menemukan ibu dan ayah Xiao.

Lewat sambungan telepon, keduanya setuju menjemput Xiao di kantor polisi.

Tapi nyatanya, hingga Selasa (22/5/2017), tak ada seorang pu dari mereka yang datang.
Di dinginnya udara China, Xiao, tetap menjalani hidup seorang diri... (*)

Sumber: http://www.grid.id/W-Stories/W-News/Pulang-Sekolah-Rumah-Bocah-Tk-Ini-Terkunci-Ternyata-Yang-Terjadi-Sungguh-Memilukan?page=all

Ketika Turis Asing Bilang, "We Don't Like Bali"


Pagi itu udara cerah. Awan tipis seperti kapas putih terbentang menghiasi langit biru. Suasana pagi yang nyaman. Setelah melalui pemeriksaan handheld detector, aku menuju meja counter di dalam ruangan samping kiri ruang tunggu untuk melakukan check in. Tak ada antrian yang panjang, penumpang hanya beberapa orang saja dan sepasang turis asing pria dan wanita berusia sekitar 40-an. Kulit mereka tampak kecoklatan, ciri khas bule yang berlibur ke Indonesia.

Setelah selesai check in, aku duduk sendirian di ruang tunggu Bandara Haji Hasan Aroeboesman Ende sambil menikmati pemandangan yang indah di luar. Hamparan rumput yang hijau sangat kontras dipadu dengan birunya aspal landasan dengan latar belakang pegunungan yang menjulang tinggi. Seperti dalam lukisan. Hening dan indah

Tak lama kemudian terdengar pengumuman bahwa penumpang jurusan Labuan Bajo dan Denpasar agar segera naik ke pesawat. Pesawat itu akan transit di Labuan Bajo sebelum menuju tujuan akhir Denpasar. Dengan sigap segera kuraih tas ransel aku dan menuju pintu keluar. Kuserahkan tiket ke petugas Bandara yang berjaga di depan pintu keluar ruang tunggu.

Setelah melewati pemeriksan tiket di pintu keluar ruang tunggu, kulangkahkan kakiku menuju Apron tempat parkir pesawat yang akan kutumpangi. Pesawat itu tampak diam membisu dan mengkilat diterpa mentari pagi. Dua pramugari dengan senyum manis menghiasi wajah mereka yang cantik tampak berdiri berdampingan di samping pintu pesawat. Mereka mengucapkan selamat datang satu per satu kepada para penumpang yang naik ke pasawat.

Aku menganggukkan kepalaku dan membalas senyum mereka, serta mengucapkan terima kasih. Setelah masuk ke pesawat, segera kucari tempat dudukku sesuai nomor seat yang tertera di tiket. Beruntung aku dapat tempat duduk persis di samping jendela sehingga memudahkanku untuk mengabadikan pemandangan dari atas pesawat dengan menggunakan kamera ponsel.

Kusetel ponselku dengan airplane mode dan mengenakan seat belt karena waktu tempuh penerbangan dari Ende ke Labuan Bajo hanya sekitar 45 menit. Tak lama kemudian sepasang turis berdiri di samping tempat dudukku. Yang pria langsung duduk di sampingku setelah menaruh tasnya di atas bagasi, sedangkan yang wanita duduk di kursi sebelah yang berseberangan dengan tempat duduk aku.

Setelah semua penumpang telah berada di kursi masing-masing, baling-baling pesawat secara perlahan mulai berputar. Pesawat kemudian bergerak perlahan menyusuri koridor landasan sampai di ujung landasan pacu sembari pramugari memperagakan langkah-langkah penyelamatan dalam keadaan darurat. Setelah sampai di ujung landasan, pesawat lalu balik arah dan berhenti.

 Gunung Iya, gunung berapi di sisi selatan pegunungan Bandara Haji Hasan Aroeboesman Ende yang tampak menyala oleh belerang (dokpri) Gunung Iya, gunung berapi di sisi selatan pegunungan Bandara Haji Hasan Aroeboesman Ende yang tampak menyala oleh belerang (dokpri)

Tak lama kemudian mesin pesawat menderu sangat kencang sampai body pesawat bergetar dan berguncang. Dari balik jendela tampak rerumputan meliuk-liuk dengan kencangnya karena diterpa angin dari baling-baling pesawat dan deru mesin pesawat yang menggemuruh. Tak lama kemudian, pesawat lalu melesat cepat dengan kecepatan tinggi dan dalam hitungan detik lepas landas dan melayang ringan di udara. Dari atas pesawat tampak lautan biru yang teduh terhampar luas. Pesawat itu kemudian menukik ke arah kanan menyusuri jejeran pegunungan Flores yang hijau dan tropis. Segera kuambil ponsel dan mengabadikan pemandangan yang indah itu dari balik jendela pesawat. Sang turis yang duduk di sampingku tampaknya mengamati aku, lalu nyelutuk, "Wonderful island, isn’t it?”

Sambil tetap memotret pemandangan di bawah, aku menganggukkan kepalaku dan menjawabnya dengan singkat, “Yes. That’s very beautiful from the sky.”

“We like Flores island, exotic and still virgin,” ia menimpali.

“Not only Flores island, but Indonesia in general. We have thousands of beautiful islands,” kujawab singkat sambil mematikan ponsel untuk menghemat baterai.

“By the way, where do you come from?” aku mengawali percakapan.

“We come from Austria, a small country in Europe.”

“Oh, I see. Is she your wife?” aku bertanya sambil melongok ke arah istrinya.

Istrinya tersenyum ke arahku sambil melambaikan jemarinya dan bilang, “Nice to meet you.”

Ia menjawab pertanyaanku dengan anggukan, lalu menjelaskan bahwa ini adalah perjalanan mereka yang pertama ke Indonesia.

Flores island (dokpri) 
dokpri
“So, what do you think about Indonesia?” aku bertanya lebih lanjut.

“Beautiful country, very beautiful. We have been to Thailand, Vietnam, but Indonesia is the best. We will come again, maybe next year visit. There are still many interesting places we must see.”

“How about Bali? Have you visit Bali?” aku bertanya lebih lanjut.

“Yes, we arrived at the first time in Bali. Then we go to Lombok and Flores island. From Flores, we plan to visit Jogjakarta,” ia menjelaskan.

“Bali is beautiful, right?” aku bertanya.

“We don't like Bali,” ia menjawab singkat.

“Oh ya?” Ini bule yang kesekian kalinya yang menjawab hal yang sama ketika kutanya pendapat mereka tentang Bali.

“Bali is too modern. Too crowd, noisy, and many hawkers. The beaches in Bali are mostly dirty, and most of prices are quite expensive,” ia menjelaskan lebih lanjut.

“Oh ya? What about Ubud? As far as I know, Ubud is quite calm, right? Have you been there?” aku bertanya dengan takjub setelah mendengar penjelasannya.

“Yes, we’ve been to Ubud, Kintamani, and many places in Bali. They’re all the same, too crowd, noisy, dirty, most of prices are expensive, and many annoying Hawkers,” ia melanjutkan penjelasannya.

“Yeah, Bali is a famous island, that’s why a lot of people around the world come to Bali. That's why Bali is crowd now, right?” aku mencoba membela.

“Yes, we know that. Your government should pay attention to the matter of comfortable and pleasure. Keep the characteristic of original culture and the way of life. We cannot enjoy a place which is crowd, noisy, dirty, prices are expensive, and annoying hawkers,” ia menjelaskan sambil sesekali menggerak-gerakkan alisnya ke atas.

"Yes, that's true," kujawab singkat.

Apa yang disampaikan oleh turis Austria itu memang benar adanya. Jujur saja, Bali saat ini adalah Bali dengan gaya hidup yang modern, banyak bangunan modern minimalis yang dibangun, tol di atas Teluk Benoa, mall, ruko dimana-mana, dan gedung-gedung modern sehingga karakteristik Bali sebagai pulau dewata pun memudar. Padahal, yang dicari turis asing bukan modernisasi dan gaya hidup modern di Bali. Mereka sudah bosan dengan hal-hal yang modern di negara mereka. Rata-rata para turis asing mencari keasrian alam dan gaya hidup orang lokal yang masih asli, masyarakatnya ramah, enggak money minded.

Harga jual cenderamata, barang-barang dagangan, dan harga makanan maupun minuman yang wajar-wajar saja karena sepantar pengamatanku, di Bali harga untuk turis asing beda dengan orang lokal. Pantai-pantai di Bali juga enggak bersih, lihat saja Pantai Kuta, Sanur, kecuali Nusa Dua karena banyak resort mewah dan hotel-hotel berbintang lima dengan private beach di sana. Itu belum lagi ulah pedagang asongan yang membuntuti para turis menawarkan barang dagangan mereka. Bagaimana Bali bisa menjadi destinasi wisata yang memberikan kenyamanan bagi para wisatawan kalau kondisinya begitu.

Suara dari speaker pesawat membuyarkan lamunanku yang mengumumkan bahwa sebentar lagi pesawat akan mendarat di Bandara Labuan Bajo. Penumpang agar mengenakan kembali seat belt, melipat kembali tray table di kursi depan dan menegakkan sandaran kursi.

Pesawat itu lalu menukik ke arah kiri, kemudian menurun dengan perlahan. Dari jendela pesawat terlihat hamparan pemandangan yang indah di bawah. Pulau yang eksotik. Pantas saja menjadi destinasi wisata Internasional.

Labuan Bajo (dokpri)

Tak lama kemudian, roda pesawat menyentuh landasan pacu dan melaju dengan kecepatan tinggi di atas aspal landasan. Setelah pesawat berhenti di Apron dan baling-baling pesawat berhenti memutar, turis itu segera mengambil barang bawaannya, lalu menyalami aku sambil menepuk-nepuk pundakku dan berkata, "Nice to meet you." Aku tetap duduk dalam pesawat karena tujuan perjalananku menuju Denpasar untuk transit ke Jakarta.

Sumber: http://www.kompasiana.com/mawalu2/ketika-turis-asing-bilang-we-don-t-like-bali_585a0436a923bd230eb105d9